TANTANGAN
KEPEMIMPINAN DALAM PEMERINTAHAN DI INDONESIA
TUGAS PAPER
Disusun Sebagai
Ulangan Tengah Semester
Mata Kuliah
Kepemimpinan Dalam Sektor Publik
Dosen Pengampu : Hendra Sukmana, M.KP
Disusun
Oleh:
NUR AMIRIL
NIM.
232020100183
PROGRAM STUDI ILMU ADMINISTRASI PUBLIK
FAKULTAS BISNIS, HUKUM, DAN ILMU SOSIAL
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SIDOARJO
TAHUN 2024
1.
PENDAHULUAN
Indonesia pada abad ke-21. Paradigma baru tersebut
membutuhkan perubahan kualitas kepemimpinan dan kemampuan aparatur pemerintah
untuk mengelola informasi dan produktivitas pegawai dengan memanfaatkan ilmu
pengetahuan, teknologi, dan seni (ipteks). Hal tersebut merupakan konsekuensi
dari tuntutan meningkatnya kualitas dan kuantitas pelayanan publik yang
dirasakan oleh masyarakat. Perlu dilakukan perubahan mendasar dan tuntas
terhadap paradigma lama yang mengekang masyarakat dalam melayani aparatur pemerintah.
Dalam pandangan baru tentang kepemimpinan publik, pemimpin harus dapat
memberikan solusi secara bijak, efisien, dan produktif atas segala permasalahan
yang muncul, bekerja sama dengan aparatur pemerintahan dan masyarakat yang
dipimpinnya. Sebagaimana dikemukakan oleh Morse dan Buss (2008: 247-248),
pemimpin pemerintahan belakangan ini menyadari bahwa mereka harus menjadi agen
perubahan sebagai servant public baru.
Mereka harus mampu menciptakan perubahan, memperbaiki
organisasi, dan memimpin bawahannya untuk mencapai produktivitas kerja yang
diinginkan, dengan dukungan teknologi, pemahaman tentang globalisasi, ekonomi,
dan harapan masyarakat. Dalam rangka meningkatkan mutu pelayanan publik, para
pimpinan di jajaran aparaturnegara harus melakukan pembaharuan dalam praktik
penyelenggaraan pelayanan publik. Adanya pemikiran baru tentang paradigma
kepemimpinan publik dan tuntutan dari masyarakat akan ditingkatkannya mutu
pelayanan publik menegaskan pentingnya pembaharuan tersebut.
Perlunya perubahan kualitas kepemimpinan dan kemampuan aparatur pemerintah untuk mengelola informasi dan produktivitas pegawai dengan memanfaatkan ipteks menjadi kunci dalam membangun paradigma baru kepemimpinan publik di Indonesia pada abad ke-21.
2.
PEMBAHASAN
Kepemimpinan dalam pemerintahan di Indonesia saat ini
dihadapkan dengan tantangan-tantangan yang kompleks dan beragam. Tiga tantangan
utama adalah tantangan keberagaman, korupsi, dan perubahan sosial dan
teknologi.
Tantangan pertama adalah keberagaman suku, agama, dan
budaya di Indonesia yang memerlukan pemimpin yang mampu menghargai dan memahami
perbedaan tersebut. Dalam menghadapi tantangan ini, Meehan (2013) menyatakan
bahwa Indonesia membutuhkan pemimpin yang dapat mengembangkan hubungan yang
harmonis, penuh kepercayaan, dan saling pengertian.
Tantangan kedua adalah korupsi, yang merupakan masalah
besar dan kompleks di Indonesia. Dalam menghadapi tantangan ini, dibutuhkan
pemimpin yang memiliki integritas dan etika yang tinggi. Avolio dan Yammarino
(2002) menjelaskan bahwa gaya kepemimpinan transformasional dapat membantu
mengembangkan bawahan secara moral dan mengurangi perilaku korupsi.
Tantangan terakhir adalah perubahan sosial dan teknologi
yang berubah dengan pesat, sehingga memerlukan pemimpin yang mampu beradaptasi
dan mengantisipasi perubahan tersebut. Gaya kepemimpinan visioner dapat
membantu dalam memandu arah perubahan dan inovasi seiring dengan perkembangan
teknologi dan tren global (Judge dkk., 2002).
Untuk memecahkan tantangan di atas, pemimpin membutuhkan
gaya kepemimpinan yang efektif sesuai dengan situasi yang ada di Indonesia.
Dalam konteks ini, terdapat tiga gaya kepemimpinan yang mungkin cocok
diterapkan di Indonesia, yaitu transformasional, transaksional, dan
partisipatif.
Gaya kepemimpinan transformasional mengandalkan
komunikasi yang efektif dan memberikan inspirasi untuk mendorong orang untuk
berinovasi, memperbaiki kinerja, dan mengembangkan kemampuan diri. Gaya ini
akan efektif pada lingkungan kerja yang belum terstruktur dengan baik dan
ketidakpastian dalam kondisi ekonomi.
Menurut Kurniawan (2017), kepemimpinan transformasional
mempengaruhi motivasi, kinerja dan kepuasan kerja karyawan, serta merangsang
inovasi dan mutu pelayanan publik. Namun, kepemimpinan transformasional di
Indonesia menghadapi beberapa tantangan, seperti kurangnya instrumen evaluasi
kinerja serta sulitnya mencapai konsensus dan pemahaman bersama dari bawahan.
Gaya kepemimpinan transaksional menekankan pada pemberian
insentif dan penghargaan sebagai dasar pengambilan keputusan. Gaya ini cocok
diterapkan pada situasi-situasi yang memerlukan stimulus eksternal untuk
meningkatkan kinerja para pegawai dan aparat pemerintah.
Prabowo (2019) menekankan bahwa transfomasi terhadap
model kepemimpinan yang transaksional harus dilakukan agar dapat mencapai
kinerja yang efektif. Terdapat hubungan positif antara kepemimpinan
transaksional dan kinerja pegawai di sektor publik, namun ketergantungan pada
penghargaan dan insentif jangka pendek dapat menghasilkan kinerja yang tidak
optimal dan tidak mempertimbangkan nilai-nilai etika dan moral yang dibutuhkan
dalam pelayanan publik.
Gaya kepemimpinan partisipatif memperhatikan sudut
pandang dari karyawan atau masyarakat terkait untuk mengambil keputusan. Dalam
lingkungan pemerintahan, gaya kepemimpinan ini dapat meningkatkan motivasi para
pegawai dan meningkatkan kepercayaan dan keterlibatan masyarakat dalam proses
pengambilan keputusan.
Menurut Siregar (2019), satu keuntungan dari kepemimpinan
partisipatif adalah terciptanya karyawan yang memiliki keterampilan
kepemimpinan dan mempunyai semangat dalam mencapai tujuan, namun tantangan
kepemimpinan partisipatif adalah memerlukan waktu yang lama karena membutuhkan
poin-poin kesepakatan bersama dalam suatu masalah dan harus mempertimbangkan
pandangan semua pihak yang terkait.
Namun, dalam menerapkan gaya kepemimpinan, pemimpin perlu mempertimbangkan beberapa kecenderungan umum di Indonesia seperti adanya perilaku otoriter, sikap patriarki, kurangnya penghargaan terhadap perbedaan pendapat, serta birokrasi yang lambat. Di sinilah tantangan kepemimpinan yang sebenarnya terletak, karena dalam setiap gaya kepemimpinan akan ada tantangan khusus yang menyertainya. Untuk itu, kepemimpinan yang efektif dalam konteks Indonesia harus memilih dan mengadaptasi gaya kepemimpinan yang tepat sesuai dengan karakteristik situasi dan kondisi yang ada.
3.
KESIMPULAN
Berdasarkan pemaparan di atas, upaya meningkatkan kualitas kepemimpinan dalam pemerintahan di Indonesia harus dilakukan dengan penuh kesadaran akan kondisi dan tantangan yang dihadapi. Pemimpin harus mampu mengembangkan gaya kepemimpinan yang tepat sesuai dengan situasi dan kondisi di Indonesia serta memperhatikan karakteristik perilaku dan tingkah laku masyarakat dan pegawai di dalamnya.
Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa gaya kepemimpinan transformasional, transaksional, dan partisipatif dapat diterapkan dalam lingkungan pemerintahan di Indonesia, namun dalam mengimplementasikannya diperlukan adaptasi dan modifikasi sesuai dengan situasi yang ada.
4.
REKOMENDASI
Penulis merekomendasikan bahwa pemimpin pemerintahan di Indonesia harus memiliki kepemimpinan yang terbuka, memfasilitasi kerjasama tim serta lingkungan kerja yang produktif, membangun kemampuan kepemimpinan yang kreatif serta memastikan bahwa kepercayaan, transparansi dan akuntabilitas terjaga dengan baik dengan mengkombinasikan ketiga gaya kepemipinan yaitu transformasional, transaksional dan partisipatif.
REFERENSI
Avolio, B. J., & Yammarino, F. J. (2002).
Transformational and charismatic leadership: The road ahead.
Judge, T. A., Bono, J. E., Ilies, R., & Gerhardt, M.
W. (2002). Personality and leadership: A qualitative and quantitative review.
Kurniawan, S. (2017). Kepemimpinan Transformasional dalam
Organisasi Publik. Jurnal Administrasi Publik, 5 (1): 41-48.
Meehan, P. J. (2013). Leadership as relationship: the
case for an Indonesian approach.
Morse, Richardo S. and Buss Terry F. 2008. Innovations in
Public Leadership Development. New York: ME Sharpe, Inc.
Prabowo, D. (2019). The Impact of Transactional
Leadership on Employee Performance in Public Sector: Evidence from Malaysia and
Indonesia. Journal of Business and Management Sciences, 7 (1): 23-29.
Siregar, R. (2019). Relationship between Participative
Leadership and Employee Performance in Government: Legal Basis and Solutions.
Journal of Politics and Governance, 7 (2): 31-37.

Komentar
Posting Komentar